Banyak sedikitnya setiap Desa tentunya ada sejarah atau legenda/riwayat masa lalu yang menyangkut adanya nama Desa, luas wilayah desa dan sebagainya. Yang selanjutnya untuk dijadikan kenangan peringatan atau tonggak sejarah mini bagi masyarakat itu sendiri. Hal ini sangat penting karena sebagai generasi penerus desa yang mau menyadari bahwa segala perlakuan atau tindakan apabila mau menengok ke belakang atau minimal melihat/mengacu pada kegiatan/peristiwa yang ada maka hasilnya akan lebih baik artinya Desa atau Pemerintah Desa atau dengan sebutan lain tetap saja Desa yang mempunyai tinggalan/warisan dari para tokoh pendahulu yang telah bersusah payah mendirikan desa atau peraturannya. Dan ini terbukti bahwa kebijakan atau aturan antara Desa satu dengan desa lain berbeda dalam menjalankan tugas pemerintahannya, contoh untuk aparat desa yang diberi upah atau honor atau dengan sebutan lain menggunakan sawah (bengkok) dan ada yang tidak ada bengkok walaupun sampai sekarang ada aturan yang mengatur tentang itu yaitu Pemerintah, namun apa hasilnya.Kembali kepada Legenda Desa Bonjok kami mencoba menulis sekedar mengenang dan merenung tentang keberadaan Desa Bonjok sebelum Tahun 1919 yang konon dari tahun ke tahun oleh para sesepuh Desa Bonjok sebagai berikut :Awal mulanya Desa Bonjok adalah hutan yang sangat lebat, dengan datangnya sekelompok tokoh pengawal Pangeran Diponegoro untuk beristirahat maka tanpa disadari lama kelamaan sambil membuka hutan (trukah atau babad) yang pada akhirnya terwujudlah suatu pedukuhan/kampung yang ada pada waktu itu diberi nama Dukuh Keputihan. Asal nama tersebut konon kabarnya sebagian ada yang menyampaikan bahwa pada zaman kerajaan Mataram masyarakat memberikan upeti diangkut dengan gerobag/pedati yang pada akhirnya Raja Mataram memberi hadiah/kebijakan pada Dukuh Keputihan atau Dukuh Putihan tersebut bebas membayar pajak/upeti sehingga disebut Dukuh Putihan. Sebagian ada yang menyampaikan juga bahwa pedalaman Dukuh Putihan tersebut sebagai pusat penyiaran agama Islam yang kabarnya dibawa oleh Kertiwangsa (Putra Menantu Kertinegara) yang berasal dari Kerajaan Yogyakarta yang juga di dukuh itu baru pertama kali ada langgar untuk mengaji atau untuk mendalami agama Islam. Dan di sebelah selatan dukuh tersebut ada dukuh yang namanya Dukuh Bendasari lalu ke timur ada sungai yang memanjang ke arah Utara ke Selatan yang namanya sungai Kemit.Sungai tersebut pada musim penghujan sering banjir sehingga merusak tanggul dan tanaman pertanian maka di sebelah barat sungai tersebut Terbentuk pedukuhan lagi yang dinamakan Dukuh Tegal Nusa karena sering kebanjiran.  Di sebelah timur sungai kemit ada pedukuhan yang namanya Dukuh Bonjok Lor, kemudian disebelah selatan Dukuh tersebut juga terbentuk pedukuhan lagi yang dinamakan Dukuh Siwaru, disebelah timur Dukuh Siwaru ada sungai yang membujur dari arah utara ke selatan namanya Sungai Abang dan sebelah timur Sungai Abang juga ada pedukuhan yang namanya Dukuh Bonjok Kidul.Dari sekelumit sejarah mini tersebut penulis berharap tidak perlu dipersoalkan karena ini hanya sebatas informasi dan tidak ada sumber yang dapat dipertanggung jawabkan.

        Kemudian pada jaman penjajah (tahun 1918) Indonesia masih dipegang oleh Pemerintah Belanda munculah aturan baru satu diantaranya adalah tentang Desa.Sejak itu pemerintahan dukuh-dukuh tersebut mengalami perubahan, yakni ada penggabungan Pemerintahan (blengketan), sehingga terjadilah pesta demokrasi (pilihan) untuk Lurah Blengketan (istilah jaman dulu). Lurah-lurah yang ada di Desa Bonjok dari awal sampai sekarang adalah :

 

NO

 

NAMA

 

PERIODE

 

TAHUN

LAMA MENJABAT

 

1.

MBAH BUANG

I

1910  s/d  1932

12 Tahun

2.

MBAH SUMARJO

II

1932  s/d  1952

20 Tahun

3.

BPK.SOEWARNO

III

1952  s/d  1985

33 Tahun

4.

BPK. HARJITO

IV

1985  s/d  1994

8 Tahun

5.

BPK. A.NGUZUDIN

V

1994  s/d  2002

8 Tahun

6.

IBU DWI PUJIHASTUTI

VI

2002  s/d  2007

5 Tahun

7.

IBU DWI PUJIHASTUTI

VII

2007  s/d   2011

3 Tahun Karena meninggal

8.

BPK.AGUS WINARNO

VIII

2011   s/d  2017

6 Tahun

9.

BPK. BUDIONO

IX

2017 s/d 2022

Berjalan

 

        Dari perhitungan waktu yang cukup lama sampai terbentuknya Desa ini tentunya banyak    proses yang telah dilalui demi meningkatkan kualitas pembangunan mental maupun spiritual. Terkait dengan itu di Desa Bonjok sudah sejak dulu bahwa untuk mewujudkan suatu cita-cita/membangun Desa berdasarkan musyawarah yang pelaksanaannya secara gotong-royong seperti iuran (uang), tenaga, material, konsumsi dan tidak kalah pentingnya menyumbangkan pikiran. Namun sampai pada masa Orde Baru kegiatan gotong-royong atau bentuk swadaya atau sebutan lain semakin menurun terbukti bahwa untuk jenis-jenis pungutan wajib dari Pemerintah seperti PBB atau jenis pungutan dari Pemerintah Desa yang telah dimasukkan dalam Peraturan Desa perhatiannya sudah mulai berkurang.

         Menghadapi kenyataan tersebut Pemerintahan Desa Bonjok melalui usaha pemberdayaan Lembaga Kemasyarakatan  yang ada di Desa ,sedikit demi sedikit berhasil menumbuhkan kembali sifat dan rasa gotong-royong masyarakat Desa yang berdampak positif terhadap proses pembangunan ekonomi sosial desa Bonjok.

 

Ditulis Oleh :Administrator
Pada : 30 April 2014 17:20:39 WIB

Komentar Artikel Terkait

Post Komentar :


Nama
Alamat Email
Komentar